Konflik Timor Timur
Sejak awal kemerdekaan Indonesia banyak mengalami konflik-konflik mengenai sengketa entah itu perebutan wilayah, batas batas Negara sampai batas batas laut territorial Negara. Terlepas dari itu semua kita meyakini bahwa masalah-masalah tersebut mempunyai solusi meskipun solusi solusi tersebut tidak selalu menguntungkan Indonesia. Dalam konteks ini saya akan membahas konflik Timor Timur dengan Indonesia.
Pada tahun 1975 pasca invasi militer banyak kelompok masyarakat Timor Timur mengungsi gunung dan hutan karena mereka tidak punya tempat tinggal dan sebagian ditampung oleh tentara FRETELIN. Hal ini membuat kelompok Timor Timur mendukung tentara FRETELIN untuk melawan pemerintah Indonesia. Didalam pengungsian kelompok Timor Timur hidup dalam kemiskinan sehingga pilihan menjadi pejuang kemerdekaan adalah jalan satu-satunya.
Timor Timur pada masa itu memang dikatakan ekonominya masih terbelakang pembangunan berjalan lambat bahkan secara ekonomi Timor Timur masih bergantung dari pihak asing termasuk Indonesia. Konflik yang terjadi di Timor Timur masuk kategori sebagai suspended conflict karena frekuensinya yang timbul tenggelam . Timor Timur dengan kondisi ekonomi sebagai Negara miskin dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi juga berkontribusi berulangnya konflik internal di Timor Timur.
Selama 24 tahun Timor Leste dibawah kekuasaan militer Indonesia, semua tindakan masyarakat yang dianggap membahayakan rezim Suharto langsung ditindak tegas melalui hukum dan dicap sebagai tindakan makar dan subversib yang haram berkembang di wilayah NKRI. Segala sesuatu dikontrol secara berlebihan oleh militer sehingga kebebasan berpendapat menjadi hal yang sangat langka dan berharga di Timor Leste. Kebijakan militer yang disusun di Jakarta terkait Timor Leste menyebabkan munculnya sistem politik represif khususnya menghadapi kelompok-kelompok yang ingin merdeka.
Adapun cara-cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelesaikan persoalan konflik dengan cara mediasi. Mediasi menurut J.G Merirills adalah merupakan negosiasi tambahan dengan mediator atau perantara sebagai pihak yang aktif, mempunyai wewenang, dan memang diharapkan untuk mengajukan proposalnya sendiri dan menafsirkan,juga menyerahkan masing-masing proposal ini bersifat tidak formal dan berdasarkan informasi yang diberikan pihak-pihak, bukannya berdasarkan penyelidikan sendiri.
Aktor yang terlibat dalam konflik di Timor Leste adalah antara pemerintah Indonesia dengan masyarakat Timor Leste yang menginginkan kemerdekaan. Dua aktor tersebut dikelompokkan sebagai aktor utama yang terlibat dalam konflik. Sedangkan aktor sekunder adalah Australia yang pada awalnya berperan sebagai mediator, namun dalam perjalanannya, justru terlibat dalam konflik secara tidak langsung dengan membantu pihak Timor Leste untuk mendapat kemerdekaan
Aktor yang pertama adalah pemerintah Indonesia. Kepentingan Indonesia untuk mempertahankan Timor Leste sebagai bagian dari wilayahnya semakin mempertegas upaya pendudukan Timor Leste melalui kekuatan militer. Bisa dikatakan bahwa pemerintah Indonesia merupakan aktor utama yang terlibat secara langsung dalm konflik di Timor Leste ini.
Aktor kedua adalah Australia yang merupakan aktor sekunder. Australia bukan merupakan aktor utama namun merupakan securitizing actor yang memposisikan dirinya dalam garis double, yang menandakan hubungan yang sangat baik dengan salah satu aktor utama yaitu Timor Leste. Australia sendiri mulai melibatkan dalam konflik di Timor Leste sejak proses referendum pada pertengahan tahun 1999 hingga kini. Australia memberikan pengaruh ke Timor Leste secara non material berupa dukungan politik di PBB dan keterlibatan tentara Australia dalam pasukan penjaga perdamaian PBB melalui UNAMET hingga UNMIT.
Opini
Melihat dari kacamata semua aspek memang sudah selayaknya Timor Timur melepaskan diri untuk mengelola wilayahnya sendiri karena memang pada masa Orde Baru kurang diperhatikan kalau bisa dibilang malah pemerintah
Komentar
Posting Komentar